KUNCI SUKSES BERSAMA ORANG NO 1

Senin, 27 Maret 2017

Info buat kita semua

Jakarta (7/11/2014) – Bhineka Tunggal Ika, merupakan semboyan yang kuat untuk menyatukan keberagaman suku dan budaya di Indonesia. Semboyan yang bersifat plural ini ternyata sudah lebih dulu diterapkan oleh Kiras Bangun. Seorang tokoh yang berasal dari Tanah Karo, tepatnya di daerah Batu Karang, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Tokoh kelahiran 1852 ini menggalang kekuatan lintas agama dan lintas suku di Sumatera Utara dan Aceh, untuk melawan penjajahan Belanda.

Dalam melakukan perjuangan melawan Belanda, Kiras  Bangun melakukan kerjasama lintas etnis dan agama yang menghasilkan kurang lebih 3000 pasukan. Pasukannya terkenal dengan sebutan Pasukan Urung (Desa), disebut demikian karena pasukannya terdiri dari orang-orang  kampung di Tanah Karo dan Aceh. Pasukan Urung beberapa kali terlibat pertempuran dengan Belanda di Tanah Karo. Kiras Bangun yang memiliki nama lain Garamata (mata merah) berasal dari keluarga yang menguasai adat Karo di Batukarang.  Kiras Bangun memiliki empat saudara kandung, seorang perempuan dan tiga orang laki-laki.

Pada masa mudanya Kiras Bangun disekolahkan di Binjai dan menguasai bahasa Melayu serta aksara Karo. Sejak berusia muda, Kiras Bangun dikenal sebagai tokoh muda bijak dalam melakukan pembelaan terhadap hak-hak rakyat yang ingin dirampas oleh Belanda. Dalam perjalanan hidupnya, Kiras Bangun menyandang banyak jabatan yaitu Sesepuh Adat Karo, Ketua Urung (desa) Lima Senina, Penghulu Lima Senina Batu Karang, Juru Damai Perang Antar Desa dan Pemimpin Urung Tanah Karo.

Perjuangan Kiras Bangun dimulai sejak tahun 1870 saat Belanda menduduki Sumatera Bagian Timur, tepatnya di Langkat dan sekitar Binjai. Saat itu Belanda membuka perkebunan tembakau dan karet di daerah tersebut. Pada tahun 1901, timbul niat Belanda untuk memperluas wilayah perkebunan mereka ke Tanah Karo.   Belanda yang telah mengetahui kharismatik dan kepopuleran Kiras Bangun, mencoba menjalin diplomasi dengan mengirimkan utusan dan menawarkan imbalan berupa uang, pangkat dan senjata. Namun Kiras Bangun menolak tawaran tersebut. Penolakan tersebut mencerminkan sifat Kiras Bangun yang lebih mengedepankan kepentingan rakyatnya daripada kepentingan pribadinya.
Lihat selengkapnya di ..>> sini << ..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar